Workshop Pengembangan M.Sc Double Degree Fakultas Geografi UGM

Fakultas Geografi dengan Mahasiswa Magister Perencanaan Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai (MPPDAS) pada tanggal 5 April 2012 menggelar acara yang bertemakan Workshop Pengembangan M.Sc Double Degree Fakultas Geografi UGM bertempat di Ruang Sekip, Gedung UC, Universitas Gadjah Mada. Acara ini termasuk rangkaian kegiatan Dies Natalies Fakultas Geografi UGM.
Acara tersebut membahas tentang rencana dan pengembangan program double degree, joint degree, berbagi pengalaman tentang program joint degree dan dobuble degree yang sudah terjalin, serta berdiskusi tentang peningkatkan kapasistas mahasiswa untuk riset dengan universitas di luar negeri. Dalam acara tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kesepakatan kerjasama antara Pusat Studi Bencana UGM oleh Prof. Dr. Junun Sartohadi, M.Sc perwakilan dari University of Twente (Belanda) Dr. Ir. Kees de Bie, serta Dekan Fakultas Geografi UGM Prof. Dr. Suratman, M.Sc. Sebagai pembicara dari UGM dalam rangkaian acara tersebut adalah Projo Danoedoro, Ph.D, Prof. Dr. Rijanta, M.Sc, Prof. Dr. H.A Sudibyakto, M.S dan perwakilan dari Cologne University of Applied Science (CUAS) Jerman adalah Dipl.-ing. MEng Simone Sandholz, serta perwakilan dari University of Innsbruck Prof Martin Coy.

read more

Selengkapnya

Ekspedisi Pulau Pramuka 30 Maret-2 April 2012

Pada tanggal 30 Maret 2012 hingga 2 April 2012, empat orang mahasiswa Magister Pengelolaan dan Perencanaan Pesisir dan DAS Fakultas Geografi UGM yaitu Annisa Triyanti, Ahmad Cahyadi, Andung Bayu Sekaranom, dan Dini Feti Anggraini melakukan ekspedisi ke Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Ekspedisi ini diaksanakan dengan kerjasama MPPDAS Fakultas Geografi UGM dengan Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (ITB). Tujuan dari dilaksanakannya ekspedisi ini adalah untuk melakukan orientasi terhadap fenomena-fenomea geografis di ekosistem pulau kecil. Berangkat dari pemahaman yang komprehensif mengenai kondisi fisik dan sosial ekonomi, keempat mahasiswa MPPDAS bersama 53 mahasiswa S-1 Teknik Geodesi ITB melakukan fieldwork di Pulau Pramuka tersebut.
Kajian yang dilakukan oleh keempat mahasiswa MPPDAS Fakultas Geografi UGM tersebut meliputi sumberdaya air, yaitu mengenai ketersediaan air dan kualitas air, sumberdaya lahan yaitu meliputi penilaian terhadap daya dukung lahan, penilaian mengenai sedimen transport dan perubahan garis pantai di kawasan pesisir Pulau Pramuka, dan pola adaptasi masyarakat di Pulau Pramuka yang meliputi adaptasi secara fisik, sosial, dan ekonomi.
Pulau Pramuka yang merupakan Ibukota Kabupaten Kepulauan Seribu ini memiliki sumberdaya pariwisata yang sangat besar. Pulau ini menurut Dr.rer.nat Poerbandono, S.T.,MM. dari Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, lebih tepat dinamakan sebagai cay yang merupakan terminologi dari pulau yang terbentuk dari endapan karang daripada sebuah pulau (island). Memiliki reef flat (hamparan karang yang menjadi ladasan dari pulau karang). Wilayah ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai daerah kegiatan pariwisata khususnya snorkeling, diving, dan sightseeing.
Masalah yang terjadi di Pulau Pramuka terkait dengan kondisi fisik yaitu berkenaan dengan pembangunan bangunan pemecah gelombang yang mengakibatkan ketidakstabilan transport sedimen. Adapun dari segi sumberdaya air, permasalahan yang paling utama terletak pada ketersediaan air dan kualitas air. Dilihat dari segi sosial ekonomi, permasalahan yang paling utama adalah berkaitan dengan fungsi kegiatan pariwisata untuk peningkatan pendapatan masyarakat lokal dan pembangunan daerah.
Kondisi airtanah di Pulau Pramuka saat ini sangat mengkhatirkan. Hal ini karena intrusi air laut telah mencapai semua wilayah pulau, sehingga airtanah menjadi payau sampai asin. Faktor yang menyebabkannya adalah penurapan airtanah yang intensif, ukuran pulau yang sangat kecil serta sedikitnya imbuhan airtanah akibat penggunaan lahan terbangun mencapai >85% dari luas wilayah. Kebutuhan air minum dipenuhi dengan menggunakan air mineral yang didatangkan dari Jakarta, sedangkan untuk mencuci dan mandi masih menggunakan airtanah. Selain itu, airtanah di Pulau Pramuka memiliki kerentanan terhadap pencemaran sangat tinggi. Hal ini karena material penyusun lapisan tidak jenuh air berupa pasir kasar dan kedalaman airtanah maksimal hanya 1,4 meter. Oleh karenanya diperlukan pula rencana pengelolaan sampah dan limbah sehingga airtanah tidak tercemar

read more

Selengkapnya

Kelas MPPDAS

Bertempat di ruang theatre Gedung Kerucut Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis, tidak kurang dari 50 mahasiswa Semester 1 program S2 Magister Perencanaaan Pengelolaan Pesisir Dan Daerah Aliran Sungai (MPPDAS) Fakultas Geografi UGM mengikuti kuliah yang dibawakan oleh Kepala Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis , Drs. A. Ari Dartoyo, M.Eng. Sebagai dosen tamu mata kuliah Coastal And Watershed Ecosystem, Kepala Laboratorium mengambil tema Manajemen Pesisir (Coastal Management). Selain berupa konsep manajemen pesisir, beliau juga memaparkan sekilas pengalaman sebagai praktisi di bidang kepesisiran selama 20 tahun bekerja di Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional) yang sejak 7 Maret 2012 resmi berganti nama menjadi BIG (Badan Informasi Geospasial).

read more

Selengkapnya

Mahasiswa MPPDAS Berkarya …

Fitria Nuraini Sekarsih salah satu mahasiswa Magister Perencanaaan Pengelolaan Pesisir Dan Daerah Aliran Sungai (MPPDAS) fakultas geografi UGM bersama dengan Rayendra Anandika (alumni teknik 2005), Adhita Sri Prabakusuma (Alumni Pn 2005), Siska Aditya (alumni Pt 2006), Ibrahim At Tsauri (Tekim 2005), Aji N (Tekfis 2007) dan komutitasnya dalam Bright Idea Community (BIC), mendapatkan dukungan penuh dari United Nation melalui program UN-Habitat Urban Youth Fund 2011 dalam program Kampung Biogas Indonesia (KBI).

read more

Selengkapnya

17Master Class, Balanced Development : Towards an Integrative approach of socio-economic and ecological dimensions

Pembangunan yang tidak berkelanjutan yang sering terjadi pada negara berkembang telah mengakibatkan berbagai kerusakan lingkungan, baik pada sistem abiotik, biotik, maupun kultural. Ekstraksi sumberdaya alam secara berlebihan telah mengakibatkan berbagai dampak negatif bagi kehidupan dan penghidupan umat manusia. Kejadian bencana alam, misal banjir, kekeringan, dan tanah longsor semakin lama semakin meningkat intensitasnya akibat deforestasi dan perubahan penggunaan lahan pada permukaan bumi, terutama pada bagian hulu dari Daerah Aliran Sungai (DAS). Sementara itu, berbagai kegiatan ekstraksi sumberdaya mineral telah mengakibatkan hilangnya ekosistem alami yang hidup diatasnya, dan tidak jarang limbah yang dihasilkan menyebabkan pencemaran lingkungan, terutama pada badan sungai. Selain dampak terhadap alam, hal tersebut juga tidak jarang menyadi penyebab konflik sosial yang ada di masyarakat, terutama antara masyarakat asli dengan pihak pengelola sumberdaya. Tidak jarang pula konflik tersebut berakhir pada tindak kekerasan yang menyebabkan kerugian material maupun inmaterial pada kedua belah pihak. Permasalahan terkait sumberdaya alam yang semakin meningkat akhir-akhir ini, menunjukan semakin pentingya perencanaan dan pegelolaan sumberdaya alam, terutama dalam lingkup pesisir dan DAS. Perencanaan dan pengelolaan pesisr serta daerah aliran sungai secara berkelanjutan mampu berperan dalam pemgelolaan sumberdaya alam di Indonesia, sehingga terjaga kelestariannya.

read more

Selengkapnya